Nabi Nuh Alaihis Salam
Nabi Nuh ‘Alaihis Salam adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Burhan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 30 Rajab 1447 H / 19 Januari 2026 M.
Kajian Tentang Nabi Nuh ‘Alaihis Salam
Dalil Nama-Nama Rasul Ulul Azmi
Dalam Surah Al-Ahzab, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman mengenai perjanjian yang diambil dari para nabi:
وَإِذْ أَخَذْنَا مِنَ النَّبِيِّينَ مِيثَاقَهُمْ وَمِنْكَ وَمِنْ نُوحٍ وَإِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ۖ وَأَخَذْنَا مِنْهُمْ مِيثَاقًا غَلِيظًا
“Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari para nabi dan darimu (Muhammad), dari Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa putra Maryam; dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh.” (QS. Al-Ahzab[33]: 7)
Ayat ini menyebutkan lima nabi utama, yaitu Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, dan Nabi Isa ‘Alaihimus Salam. Selanjutnya, dalam Surah Asy-Syura, Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan kesatuan syariat yang diberikan kepada mereka:
شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰ ۖ أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ…
“Dia (Allah) telah mensyariatkan kepadamu agama yang telah Diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami Wahyukan kepadamu (Muhammad) dan apa yang telah Kami Wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa, yaitu tegakkanlah agama (iman dan tauhid) dan janganlah kamu berpecah-belah di dalamnya.” (QS. Asy-Syura[42]: 13)
Perintah untuk Bersabar dalam Dakwah
Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk memiliki kesabaran yang luar biasa dalam berdakwah, mencontoh kesabaran para pendahulunya dari kalangan Ulul Azmi. Perintah ini tertuang dalam Surah Al-Ahqaf:
فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلَا تَسْتَعْجِلْ لَهُمْ…
“Maka bersabarlah engkau (Muhammad) sebagaimana kesabaran rasul-rasul yang memiliki keteguhan hati (Ulul Azmi) dan janganlah engkau meminta agar azab disegerakan untuk mereka.” (QS. Al-Ahqaf[46]: 35)
Nabi Nuh ‘Alaihis Salam merupakan rasul pertama yang akan dibahas kisahnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kesaksian mengenai kerasulan Nabi Nuh ‘Alaihis Salam dan kejujurannya dalam menyampaikan risalah sebagaimana disebutkan dalam Surah Asy-Syu’ara ayat 105 sampai 107.
Kaum Nabi Nuh ‘Alaihis Salam telah mendustakan para rasul (al-mursalin). Meskipun mereka hanya mendustakan Nabi Nuh, namun dalam pandangan syariat, mendustakan satu rasul berarti telah mendustakan seluruh rasul yang diutus oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an:
كَذَّبَتْ قَوْمُ نُوحٍ الْمُرْسَلِينَ ﴿١٠٥﴾ إِذْ قَالَ لَهُمْ أَخُوهُمْ نُوحٌ أَلَا تَتَّقُونَ ﴿١٠٦﴾ إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ ﴿١٠٧﴾
“Kaum Nuh telah mendustakan para rasul. Ketika saudara mereka (Nuh) berkata kepada mereka, ‘Mengapa kamu tidak bertakwa? Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu’.” (QS. Asy-Syu’ara[26]: 105-107)
Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِۦ فَقَالَ يَٰقَوْمِ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُۥٓ إِنِّىٓ أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ
“Sungguh, Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu dia berkata, ‘Wahai kaumku! Sembahlah Allah! Tidak ada tuhan (sembahan) bagimu selain Dia. Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab pada hari yang dahsyat (kiamat).`” (Surah Al-A’raf 59)
قَالَ ٱلْمَلَأُ مِن قَوْمِهِۦٓ إِنَّا لَنَرَىٰكَ فِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ
“Pemuka-pemuka kaumnya berkata, ‘Sesungguhnya kami memandangmu benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata.`” (Surah Al-A’raf 60)
قَالَ يَٰقَوْمِ لَيْسَ بِى ضَلَٰلَةٌ وَلَٰكِنِّى رَسُولٌ مِّن رَّبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ
“Dia (Nuh) menjawab, ‘Wahai kaumku! Tidak ada kesesatan padaku, tetapi aku adalah seorang rasul dari Tuhan seluruh alam.`” (Surah Al-A’raf 61)
أُبَلِّغُكُمْ رِسَٰلَٰتِ رَبِّى وَأَنصَحُ لَكُمْ وَأَعْلَمُ مِنَ ٱللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
“(Tugasku) menyampaikan amanat Tuhanku kepadamu dan memberi nasihat kepadamu, dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (Surah Al-A’raf 62)
Nabi Nuh sebagai Rasul Pertama di Bumi
Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, Nabi Nuh ‘Alaihis Salam ditetapkan sebagai rasul pertama yang diutus kepada penduduk bumi. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan gambaran mengenai kedudukan beliau pada hari kiamat kelak:
أَنَا سَيِّدُ النَّاسِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَهَلْ تَدْرُونَ مِمَّ ذَاكَ؟ يَجْمَعُ اللَّهُ النَّاسَ الأَوَّلِينَ وَالآخِرِينَ فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ
“Aku adalah pemimpin manusia pada hari kiamat. Tahukah kalian mengapa demikian? Allah mengumpulkan seluruh manusia dari yang awal hingga yang akhir di satu tanah lapang yang datar.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kondisi Padang Mahsyar saat itu sangat mengerikan. Seluruh manusia dari zaman Nabi Adam ‘Alaihis Salam hingga manusia terakhir sebelum kiamat berkumpul menjadi satu. Kerumunan massa yang sangat masif ini menunjukkan keagungan Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena bagi-Nya sangat mudah untuk membangkitkan dan mengumpulkan seluruh makhluk dalam satu tempat.
Kondisi manusia di Padang Mahsyar sangat mengerikan. Keimanan dan amal kebaikan menjadi satu-satunya pelindung. Pada hari itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala mendekatkan matahari sehingga manusia diliputi kegundahan dan kesusahan yang tidak sanggup mereka tanggung. Dalam keadaan yang sangat genting tersebut, sebagian manusia berkata kepada yang lain:
أَلَا تَرَوْنَ مَا أَنْتُمْ فِيهِ؟ أَلَا تَرَوْنَ مَا قَدْ بَلَغَكُمْ؟ أَلَا تَنْظُرُونَ مَنْ يَشْفَعُ لَكُمْ إِلَى رَبِّكُمْ؟
“Tidakkah kalian melihat keadaan kalian ini? Tidakkah kalian melihat penderitaan yang telah menimpa kalian? Tidakkah kalian mencari orang yang dapat memberikan syafaat bagi kalian kepada Rabb kalian?” (HR. Bukhari dan Muslim)
Manusia Mendatangi Nabi Adam Alaihis Salam
Manusia kemudian sepakat untuk mendatangi Nabi Adam Alaihis Salam. Mereka memuji keutamaan beliau sebagai bapak manusia (Abul Basyar) yang diciptakan langsung dengan tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala, ditiupkan roh kepadanya, dan para malaikat diperintahkan bersujud kepadanya. Mereka memohon agar Nabi Adam memberikan syafaat karena kondisi mereka yang sudah tidak tertahankan. Namun, Nabi Adam menjawab:
إِنَّ رَبِّي قَدْ غَضِبَ الْيَوْمَ غَضَبًا لَمْ يَغْضَبْ قَبْلَهُ مِثْلَهُ، وَلَنْ يَغْضَبَ بَعْدَهُ مِثْلَهُ، وَإِنَّهُ نَهَانِي عَنِ الشَّجَرَةِ فَعَصَيْتُهُ، نَفْسِي نَفْسِي
“Sesungguhnya Rabbku hari ini sangat marah dengan kemarahan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan tidak akan terjadi sesudahnya. Sesungguhnya Dia telah melarangku mendekati pohon (di surga), namun aku melanggarnya. Diriku sendiri, diriku sendiri (aku hanya memikirkan nasibku).” (HR. Bukhari dan Muslim)
Nabi Adam kemudian mengarahkan manusia untuk menemui Nabi Nuh Alaihis Salam.
Nabi Nuh Alaihis Salam sebagai Rasul Pertama
Manusia kemudian mendatangi Nabi Nuh Alaihis Salam dan berkata, “Wahai Nuh, engkau adalah rasul pertama yang Allah utus ke muka bumi.” Pernyataan ini merupakan bukti otentik dari hadits bahwa Nabi Nuh adalah rasul pertama. Selain itu, mereka menyebutkan gelar yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada beliau sebagai hamba yang pandai bersyukur.
Manusia memohon bantuan syafaat kepada Nabi Nuh agar mereka dibebaskan dari penderitaan di Padang Mahsyar. Akan tetapi, jawaban Nabi Nuh sama persis dengan Nabi Adam. Beliau menyatakan bahwa Rabbnya sedang murka dengan kemarahan yang sangat besar. Beliau juga merasa malu karena pernah menggunakan jatah doa mustajabnya untuk meminta kehancuran bagi kaumnya di dunia.
Peristiwa air bah yang menimpa kaum Nabi Nuh ‘Alaihis Salam merupakan kejadian yang sangat dahsyat, di mana seluruh permukaan bumi termasuk puncak gunung pun tenggelam. Meskipun beliau termasuk rasul Ulul Azmi, pada hari kiamat Nabi Nuh ‘Alaihis Salam tetap merasa tidak berdaya dan berkata, “Nafsi, nafsi,” yang berarti beliau hanya memikirkan keselamatan diri sendiri. Beliau tidak sanggup memberikan syafaat kepada umat manusia dan memerintahkan mereka untuk mendatangi Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam.
Perjalanan manusia berlanjut dari Nabi Ibrahim, Nabi Musa, hingga Nabi Isa ‘Alaihimus Salam, namun semua memberikan jawaban yang sama. Akhirnya, manusia sampai kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Beliau kemudian bersabda bahwa bagian tersebut adalah hak beliau untuk memberikan syafaat atas izin Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Keistimewaan Umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
Umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memiliki keistimewaan luar biasa karena meskipun datang paling akhir, mereka akan masuk surga paling awal. Syarat untuk mendapatkan kemuliaan ini adalah dengan menjaga keislaman, keimanan, serta istiqamah di atas sunnah dengan penuh kesabaran selama hidup di dunia. Seseorang yang mengharapkan syafaat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam harus mengikuti tuntunan beliau tanpa menambah-nambah atau mengurangi ajaran agama. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah memberikan wasiat:
اتَّبِعُوا وَلَا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ
“Ikutilah (sunnah) dan janganlah kalian melakukan bid’ah, karena sesungguhnya kalian telah dicukupkan (dengan syariat ini).” (Diriwayatkan oleh Ad-Darimi)
Lihat juga: Hadits Syafa’at
Jalan Menuju Cinta dan Ampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala
Setiap hamba tentu mendambakan cinta dan ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingat banyaknya kelalaian dan kekeliruan yang dilakukan. Cara untuk mendapatkan kedua hal tersebut telah dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an melalui ketaatan kepada Rasul-Nya:
قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
“Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah Mencintaimu dan Mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran[3]: 31)
Seseorang tidak dapat membeli cinta Allah Subhanahu wa Ta’ala, namun ia dapat meraihnya dengan cara mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam secara murni.
Surah Ali Imran ayat 31 merupakan ayat yang luar biasa karena memberikan semangat bagi setiap muslim untuk mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Terkait kedudukan Nabi Nuh ‘Alaihis Salam, beliau merupakan rasul pertama yang diutus oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana para nabi lainnya, Nabi Nuh menerima wahyu secara langsung dari Allah ‘Azza wa Jalla.
Wahyu kepada Nabi Muhammad dan Nabi Nuh
Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan bahwa wahyu yang diberikan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yang berupa Al-Qur’an dan sunnah, setara dengan wahyu yang diberikan kepada nabi-nabi sebelumnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَىٰ نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِنْ بَعْدِهِ
“Sesungguhnya Kami telah mewahyukan kepadamu (Muhammad) sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi setelahnya.” (QS. An-Nisa[4]: 163)
Sifat Nabi Nuh sebagai Hamba yang Pandai Bersyukur
Salah satu sifat utama Nabi Nuh ‘Alaihis Salam yang dipuji oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah kegemarannya bersyukur. Pujian ini diabadikan dalam Al-Qur’an:
ذُرِّيَّةَ مَنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ ۚ إِنَّهُ كَانَ عَبْدًا شَكُورًا
“(Wahai) keturunan orang yang Kami bawa bersama Nuh. Sesungguhnya dia (Nuh) adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur.” (QS. Al-Isra[17]: 3)
Kesabaran Dakwah Selama 950 Tahun
Nabi Nuh ‘Alaihis Salam memiliki kegigihan dakwah yang luar biasa. Beliau berdakwah tanpa mengenal lelah, baik siang maupun malam, selama 950 tahun. Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan masa dakwah tersebut dalam firman-Nya:
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِ فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَامًا فَأَخَذَهُمُ الطُّوفَانُ وَهُمْ ظَالِمُونَ
“Dan sungguh, Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka dia tinggal bersama mereka selama seribu tahun kurang lima puluh tahun. Kemudian mereka dilanda banjir besar dalam keadaan sebagai orang-orang zalim.” (QS. Al-Ankabut[29]: 14)
Meskipun berdakwah hampir satu milenium, jumlah pengikut beliau sangat sedikit, bahkan ada yang menyebutkan hanya belasan orang saja. Fenomena ini memberikan pelajaran berharga bahwa keberhasilan dakwah tidak diukur dari banyaknya jumlah pengikut. Seseorang tidak boleh berbangga dengan jumlah yang banyak jika kualitas keimanan tidak terjaga.
Keberhasilan dakwah tidak diukur dari banyaknya jumlah orang yang hadir. Ada ulama yang muridnya hanya satu atau dua orang, namun dakwahnya tetap dianggap berhasil. Indikator keberhasilan dakwah adalah ketika seorang pendakwah tetap lurus berada di atas rel Al-Qur’an dan sunnah sesuai dengan manhaj salaf, tanpa berbelok atau mengikuti kemauan massa demi popularitas.
Bahkan, terdapat nabi dan rasul yang tidak memiliki pengikut sama sekali di hari kiamat. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
وَالنَّبِيُّ وَلَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ
“…dan ada seorang nabi yang tidak bersamanya seorang pun (pengikut).” (HR. Muslim)
Oleh karena itu, seorang dai tidak boleh mengikuti arus keinginan umat (mad’u) jika hal tersebut menyimpang dari aqidah yang lurus. Dai harus memiliki sikap dan prinsip dalam mengajarkan kebenaran, sebagaimana keteguhan Nabi Nuh ‘Alaihis Salam yang tidak mengubah metode dakwahnya hanya agar disukai masyarakat.
Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 yang penuh manfaat ini.
Download MP3 Kajian
Podcast: Play in new window | Download
Mari turut membagikan link download kajian “Nabi Nuh ‘Alaihis Salam” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com
Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :
Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv
Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56001-nabi-nuh-alaihis-salam/